26 April 2011

Pilih Seks yang Ini! Karena Ogah “Foreplay”?

Bosan dengan “Foreplay”? coba lakukan tipe pilihan seks berikut ini, apalagi buat Anda yang menginginkan sensasi baru dalam bercinta dengan pasangan dijamin ‘rumus baru’ dalam bercinta ini membuat gairah Anda akan semakin berguncang hebat. Ini dia pilihan seks buat Anda yang ogah dengan “Foreplay”
 
1. Seks “selamat datang”
Ketika suami sedang melakukan perjalanan dinas selama beberapa minggu, Anda tentu terpaksa berpisah sementara. Anda berdua tentu akan sangat merindukan satu sama lain dan membuat pertahanan diri menjadi bobol ketika suami akhirnya pulang. Anda pasti tak akan mampu menolak ajakan lembutnya untuk segera melepas rindu. Kalau sudah begini, aturan tentang foreplay sudah pasti akan menguap begitu saja.

2. Seks kilat alias “quickie sex”
Hanya punya waktu singkat, jangan jadi alasan untuk tidak berhubungan seks. Namun, bila bersedia melakukan seks kilat ini, pastikan Anda juga menginginkannya. Karena, ketika dilakukan dengan cepat, Anda harus mengabaikan acara foreplay-nya. Begitu Anda setuju melakukan sesi ini, Anda bisa melakukannya kapan saja. Dari sekadar menerima ajakan si dia bercinta sesaat sebelum ke kantor, mencuri waktu di fitting room saat Anda sedang mencoba pakaian, atau menyelinap keluar di sela-sela coffee break saat seminar.

3. Seks di luar ruangan
Seks yang dilakukan di luar ruangan tentu menimbulkan sensasi tersendiri. Tentu tidak perlu diterjemahkan secara harfiah bahwa Anda harus bercinta di taman atau di tempat umum lain. Bisa juga di halaman rumah, garasi, atau di kamar atas yang menghadap ke balkon. Sifat lokasinya yang outdoor ini menyebabkan seks jenis ini tidak foreplay-friendly. Tentu, Anda tidak perlu sampai melakukan intercourse saat di teras rumah, di pinggir pantai, atau di tempat-tempat di mana akan ada banyak orang. Cukup dengan saling membelai bagian-bagian sensitif Anda dan si dia.

4. Seks ke penjuru ruangan
Ketika Anda sedang mencoba memperluas “daerah jajahan” Anda dari tempat tidur ke ruangan-ruangan lain di rumah Anda, Anda tak akan terlalu memikirkan foreplay. Sebab, muncul rasa waswas aktivitas Anda tengah diintai orang lain. Apalagi inti dari seks semacam ini sebenarnya lebih pada spontanitas dalam hubungan. “Spontanitas itu indah, menyenangkan, dan mendebarkan,” kata Mort Fertel, konsultan pernikahan di Baltimore dan pencipta Marriage Fitness Program. Sering kali, menurut dia, orang terjebak dalam rutinitas di mana mereka melakukan hubungan intim pada waktu yang sama, tempat yang sama, bahkan posisi yang sama. Hal ini akan menyebabkan aktivitas seks menjadi membosankan.

5. Seks “pelarian”
Pernah mengalami ketika Anda terjebak dalam acara di mana tamu-tamunya tak ada yang Anda kenal, atau pertemuan keluarga yang membosankan? Anda bisa mengusir kebosanan dengan menyelinap ke kamar hotel, kamar ganti, atau ruang pribadi apa pun. Temui si dia di sana. Kemungkinan untuk dipergoki orang lain membuat suasana menjadi mendebarkan, tetapi menambah kegairahan pada Anda.

20 April 2011

Bayi Baru Lahir Bisa Bertahan 48 Jam Tanpa Menyusu


img
Ibu yang baru saja melahirkan bayi kadang bingung dan khawatir karena air susunya (ASI) belum keluar. Tapi sebenarnya bayi yang baru lahir bisa bertahan hingga 48 jam tanpa menyusu. Jika ASI belum keluar, ibu tetap harus menjaga kontak kulit dengan bayi agar ia merasa nyaman.

"Bayi bisa bertahan 24-48 jam, karena ia sudah dibekali dari kandungan. Tapi yang terpenting jangan dipisahkan dari ibunya," ujar Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, FABM saat ditemui disela-sela acara seminar 'Ibu Bekerja Bukan Alasan Menghentikan Pemberian ASI Eksklusif' di Hotel Birawa, Jakarta, Selasa (27/9/2011).

Dr Tami menuturkan ketika mendengar bayi menangis pasti yang terlintas pertama kali adalah bayi tersebut lapar sehingga harus disusui. Padahal bayi yang dipisahkan 6 jam saja dari ibunya akan memiliki tingkat stres yang 2 kali lipat lebih tinggi yang bisa membuatnya menangis.

Hal ini karena selama di kandungan bayi selalu dekat dengan ibunya, dan jika kadar hormon stresnya meningkat akan membuat daya tahan tubuhnya berkurang sebesar 50 persen.

Lebih lanjut Dr Tami mengungkapkan jika bayi menangis, maka gendonglah ia sehingga bisa mendapatkan skin to skin contact (kontak kulit) dengan ibu dan tetaplah berusaha menyusui agar bisa mendapatkan kolostrum meski hanya 1-2 tetes saja. 
 
 "Kolostrum ini berfungsi untuk membantu mematangkan usus bayi dengan menutup lubang-lubang yang ada di usus agar tidak diisi oleh benda-benda asing," ujar dokter yang berpraktek di di Klinik Lakstasi RS St Carolus Salemba.

Selain itu hampir sekitar 50 persen keberhasilan menyusui bergantung pada pikiran si ibu. Sedikit saja si ibu memiliki pikiran negatif maka akan langsung membuat produksi ASI-nya menjadi drop.

Dr Tami menjelaskan dari sisi kedokteran ada 2 hormon yang mempengaruhi ASI yaitu hormon prolaktin yang berfungsi memproduksi ASI dan hormon oksitosin yang berfungsi mengalirkan ASI.

"Hormon oksitosin terpengaruh oleh pikiran ibu, jadi kalau ibu sedang sedih, stres, kesel atau mangkel maka hormon oksitosin akan berkurang yang mempengaruhi produksi ASI," ungkapnya.

Untuk itu proses menyusui tidak hanya melibatkan 2 orang, tapi 3 orang yaitu ibu, bayi dan juga ayah. Dalam hal ini ayah memiliki kekuatan atau pengaruh yang cukup signifikan, atau disebut dengan breastfeeding gender.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...